Menyiapkan Hati, Meneguhkan Karier Akademik

Pontianak, 12 Desember 2025 — Di tengah tuntutan dunia akademik yang kian kompleks, pengembangan karier dosen dan tenaga kependidikan tidak cukup hanya ditopang oleh capaian administratif, publikasi ilmiah, atau jenjang jabatan fungsional. Dimensi batin, integritas personal, dan kedewasaan sikap justru menjadi fondasi yang kerap luput dari perhatian. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam kegiatan rekoleksi Adven bagi dosen dan tenaga kependidikan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiiwa yang diselenggarakan di Aula Kampus 2 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak.
Mengusung tema “Kusiapkan Hatiku, Tuhan”, rekoleksi ini menghadirkan ruang reflektif bagi sivitas akademika untuk menata ulang orientasi diri sebagai pendidik dan pelayan ilmu pengetahuan. Di tengah rutinitas pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta beban administrasi yang kerap menyita energi, kegiatan ini menjadi jeda penting untuk kembali pada pertanyaan mendasar: ke mana arah karier akademik dijalani dan nilai apa yang menopangnya.

Rekoleksi dipandu oleh Rm. Prasetyo, CDD, yang dalam refleksinya menekankan bahwa keberlanjutan karier akademik tidak bisa dilepaskan dari kualitas relasi dan kematangan karakter. Kasih, pengampunan, dan rasa syukur, menurutnya, bukan sekadar nilai spiritual, melainkan kompetensi personal yang sangat relevan dalam ekosistem perguruan tinggi. Tanpa ketiganya, dunia akademik mudah terjebak dalam kompetisi tidak sehat, relasi kerja yang kaku, serta kelelahan emosional yang menggerus makna profesi dosen.
Dalam konteks kampus, kasih dimaknai sebagai sikap menghargai martabat manusia—baik mahasiswa, rekan sejawat, maupun tenaga kependidikan. Pengampunan menjadi kemampuan untuk mengelola konflik secara dewasa, tanpa membawa luka personal ke dalam relasi profesional. Sementara rasa syukur menolong akademisi untuk tetap waras dan rendah hati di tengah dinamika sistem pendidikan tinggi yang terus berubah dan sering kali menuntut adaptasi cepat.
Refleksi tersebut diperdalam melalui pemutaran video inspiratif yang mengangkat kisah tentang tolong-menolong dan pengampunan sebagai ekspresi konkret kasih. Tayangan ini tidak dimaksudkan sebagai ilustrasi moral semata, tetapi sebagai undangan untuk bercermin: sejauh mana praktik keseharian di lingkungan kampus mencerminkan nilai-nilai yang kerap dibicarakan dalam ruang kelas dan forum akademik. Keheningan yang menyelimuti ruangan menunjukkan bahwa pesan tersebut menyentuh pengalaman personal banyak peserta.

Rm. Prasetyo juga mengajak peserta untuk menumbuhkan kebiasaan berpikir positif, bertutur inspiratif, dan bertindak produktif sebagai bagian dari etos akademik yang sehat. Dalam dunia perguruan tinggi, pikiran positif membantu dosen bersikap adaptif terhadap perubahan kebijakan dan tuntutan kinerja. Perkataan yang inspiratif membangun iklim kolaboratif dan dialogis, sementara tindakan produktif mencerminkan komitmen profesional yang nyata, bukan sekadar simbolik.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif sepanjang kegiatan. Rekoleksi ini tidak diposisikan sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai ruang evaluasi diri yang jujur dan mendalam. Banyak peserta memaknainya sebagai kesempatan langka untuk berhenti sejenak dari ritme kerja yang padat dan kembali menyelaraskan antara tujuan personal, tanggung jawab institusional, dan panggilan profesi sebagai akademisi.
Sebagai pendalaman refleksi, peserta diajak menerima Sakramen Tobat sebagai simbol keberanian untuk melakukan koreksi diri, baik dalam kehidupan personal maupun profesional. Dalam konteks karier akademik, momen ini dimaknai sebagai kesediaan untuk memperbaiki sikap, membangun ulang integritas, dan memperbarui komitmen etis dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi.
Rangkaian rekoleksi ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat. Ekaristi menjadi peneguhan bahwa pengembangan karier akademik sejatinya tidak hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang kesetiaan pada nilai, ketekunan dalam pelayanan, dan keberanian menjaga kemanusiaan di tengah tuntutan sistem. Dengan hati yang diperbarui, para dosen dan tenaga kependidikan diharapkan kembali ke ruang kelas dan kantor dengan perspektif yang lebih utuh: bahwa karier akademik yang bermakna selalu bertumbuh dari kedalaman batin yang terawat.


Heard about Fortunetigerapp, and it does not hold back. It’s nice playing on the go with this app. Get it here: fortunetigerapp.