Mengikut Seminar ke 44 dan Sebagai Kaleidoscope COVID 19

Beberapa waktu yang lalu IINTOA [ Indonesia Inbound Tour Operators Association ] dalam acara Online Seminar yang ke 44 melalukan temu bicara antara media dan anggota IINTOA mencoba membedah kondisi pariwisata Indonesia dan kondisi anggota IINTOA dan atau Tours Operators  situasi saat ini yang sedang dihadapi, dalam acara tersebut disampaikan situasi sulit yang dihadapi tidak sedikit yang sudah collapse diperkirakan [ diperkirakan sekitar 80% ] dan Sebagian juga beralih profesi termasuk Sumber Daya Manusia yang selama ini bekerja di Biro Perjalanan Wisata.  Tidak sedikit anggota telah menjual asset yang mereka miliki.

Peran pemerintah dan perbankan juga belum cukup significant memberikan dukungan terhadap Biro Perjalan Wisata yang dulu disebut sebagai pahlawan penghasil divisa, statement ini disampaikan oleh Ketua IINTOA Paul E Talo – dan pihak media oleh Mimi dari TTG beserta reng-rengannya.  Acara ini di pandu langsung oleh saudara Yongki selaku moderator. Acara ini dimulai dari jam 15.00 WIB yang rencananya berakhir akhir pada jam 17:00 WIB akhirnya di perpanjang sampai dipengujung jam 17.45. karena saking ramai dan saling memberi pandangan

COVID 19 sebagai Catastrophic Risk factor yang extremely beneficial financial assistance dan terbangun travel and event sock bagi hampir semua orang serta berbagai bidang  usaha dan industry terutama bidang pariwisata. Kondisi saat ini dapat dikatakan tidak  seorang pun mampu memprediksi terhadap kejadian ini dapat mempengaruhi sedemikian besar  dampaknya. serta dapat mengambil suatu final solution. Dampak Pandemic Covid 19 secara glob al menempatkan industry pariwisata dalam situasi kelumpuhan terutama terhadap usaha inbound

Meneropong berbagai scenario yang dirancang dan prediksi dunia pariwisata nasional maupun international pada tahun 2020 ketika kehadiran Covid 19 menerpa seluruh dunia, scenario tentu bukanlah suatu perkiraan dan tidak dapat dijadikan dan atau di interprestasikan dari sebuah target melainkan scenario adalah untuk mengambil langkah strategy dalam perencanaan.

Selama ini di tahun 2020 ada 3 scenarion diperkirakan dalam suatu pola perubahan yang terjadi dari bulan ke bulan, mulai dari awal Januari – April hingga Desember 2020, Pada awal di Q 1 January sampai April semua pintu ditutup rapat untuk menusia melakukan perjalanan, bilamana pembatasan perjalan mulai dicabut dan berbagai border antar daerah dan negara mulai di buka pada awal bulan Juli Q 3. Sebagai scenario 1. Q 4 pada awal September dan Scenarion 2 awal Desember pada scenario 3.

Sebagaimana telah diketahui bersama pada January Maret sampai April sesuai dengan data seluruh pintu masuk tertutup rapat baik untuk wisnus mau pun wisman. Sampai tulisan ini diturunkan dalam kontak masih penuh ketidak pastian.  Walaupun dalam scenario awal Indonesia memprediksikan pada Q 3 akan memulai restart business dan memasuki Q 4 akan diadakan pemulihan ekonomi sedangkan untuk suatu perjalan sampai dengan akhir Desember diharapkan keseluruhan dapat berjalan normal sampai dengan Q 1 tahun 2021.  tapi memasuki tahun 2021 scenario terlihat makin tidak jelas terkecuali untuk program Vaccine dan CHSE, dana stimulan dan fiskal bantuan terhadap bidang pariwisata juga tidak terlihat merata.

Memperhatikan scenario Road Map tersebut Bali telah menyatakan per bulan Juli 2020 terbuka untuk wisatawan domestic dan international pada bulan September 2020. Langkah open boarder oleh Pemerintah Daerah Bali memberikan suatu titik harapan bagi tours operator terutama inbound tours operators yang sebagian besar berada di Pulau Bali, yang sudah megap – megap menghadapi COVID 19 ini, bagaikan ikan yang kehilangan air, tinggal waktunya untuk mati, dan sebagian menurut informasi sudah ada yang collapse.

Para tour operator bercermin dengan 3 scenario atau langkah yang diharapkan dapat menuju normal dimana diharapkan terinfection covid 19 diharapkan dapat menunjukan trend terus menurun yang sangat mempengaruhi kondisi perjalanan, dari 3 scenario tersebut penurunan kedatangan hingga Desember 2020 turun secara terus menerus meskipun dengan luasan wilayah yang berbeda.

Tapi termyata memasuki tahun 2021 scenario itu akhirnya scenario tinggal scenario, situasi tambah tidak menentu Jawa Bali kembali di tutup dengan sebutan PPKM [ atau dapat disebut semi lockdown ] kondisi ini membuah dunia pariwisata kembali harus dapat dikatakan harus kecele, yang tadinya sudah siap – siap untuk dapat mulai bergairah kembali, akhirnya harus mengurungkan kegembiraan dan harapannya.

SUATU PREDIKSI KONDISI PENERBANGAN  

Data ICAO menunjukkan penurunan tajam 38% dalam total kapasitas udara dunia pada bulan Maret, dengan penurunan dua digit besar-besaran di seluruh wilayah.Estimasi terbaru untuk setahun penuh 2020 dibandingkan dengan baseline akan menjadi pengurangan 39% menjadi 56% dari kursi yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan jika pemulihan terjadi pada akhir Mei,  49% hingga 72%  jika restart pada Q3 atau kemudian. Penumpang internasional akan turun 44% menjadi 80% pada tahun 2020 IATA menunjukkan penurunan 22% pada penumpang internasional permintaan (RPK) di bulan Januari-Maret, dengan penurunan 56% di bulan Maret. IATA memperkirakan total pasar penumpang udara hingga akhir 2020 di -48% dalam RPK.Data Forward Keys menunjukkan penurunan pemesanan udara sebesar 80% di seluruh dunia pada Q1. Asia dan Pasifik (-98%) menderita yang terbesar turun dan mulai menurun lebih awal, dengan diperkenalkannya pembatasan perjalanan di Cina. Pemesanan udara dari Eropa (-76%), the Amerika (-67%), Afrika dan Timur Tengah (-65%) semuanya parah menurun pada kuartal pertama tahun 2020. Pariwisata adalah sektor ekonomi utama dan sumber penting pendapatan ekspor di banyak negara maju dan berkembang.·         Destinasi yang memiliki pangsa pariwisata yang tinggi sebagai sumber pendapatan ekspor, pendapatan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan investasi, sangat rentan terhadap dampak COVID-19 pandemi.·         Ini adalah kasus di banyak Negara Berkembang Pulau Kecil / Small Island Developing States (SIDS), dimana pangsa ekspor dari pariwisata internasional secara total ekspor barang dan jasa bisa mencapai 90%.·         54% dari semua negara yang paling terkena dampak COVID-19 belanja pariwisata (per 2 Mei). Ini potensi hilangnya pendapatan ini merupakan tantangan yang cukup besar di banyak destinasi yang mengandalkan di atasnya

MEMPERHATIKAN SCENARIO

Memperhatikan scenario yang diatas para tour operator telah melakukan langkah – langkah di akhir April melakukan contact – contact business dan melakukan standing order yang awalnya dengan data scenario tersebut diatas sebagai destinasi favorite Bali pada awalnya rombongan wisatawan akan mulai bergerak pada bulan October, akhirnya harus tertunda ke November, setelah dikeluarkan surat edaran dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No.IMI-UM.01.01-4047. Perihal Pemberian Izin Masuk Orang Asing Berdasarkan Pemenkumham No. 11 Tahun 2020. Tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilaya Negara Republik Indonesia.  Memperhatikan scenario pelarangan tersebut tentu penerbang international keseluruhan pintu masuk juga kemungkinan besar di tutup, dan kemudia akhirnya semua harus postpone sampai pada bulan January 2021 itu pun belum pasti iya atau akan batal total.

Dunia menghadapi kondisi kesehata global yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mempunyai dampak social dan keadaan darurat ekonomi dengan pandemic COVID 19 ini.  Pejalan dan sector pariwita yang paling terkena dampak, baik pesawat, hotel, terjadi sebagian gulung tikar atau dengan kata lain di tutup, perbatasan antar Negara baik di Europa, Asia, serta ASEAN pun di tutup rapat,  pembatasan melakukan perjalanan diberlakukan dan diterapkan dihampir semua negara di dunia.

Data statistic tahun ketahun naik secara terus menerus terkecuali ada terjadi penurunan di tahun 2003 disebabkan SAR itu pun hanya turun sekitar -3% sampai dengan -0,43% dan di tahun 2009 turun sekitar -37% sd -4% itu pun hanya terjadi di daratan Amerika yang disebabkan adanya crisis ekonomi, tapi yang mendadak anjlok yang luar biasa terjadi di tahun 2020 yang disebabkan COVID 19 mencapai -78% dan bahkan lebih dan itu merata di seluruh dunia yang memangkas kedatangan wisatawan international maupun domestic. Data pertama menunjukan penurunan dua digit sebesar di quarta pertama Q 1 sudah mulai dirasakan pada tahun 2020 memasuki bulan maret anjlok 57% dan mulai diirini hilangnya jutaan kedatangan wisman serta diiringi terjadinya penghentian jutaan tenaga kerja di bidang pariwisata.

Dari data tersebut terlihat terjadi penurun secara terus menerus dengan tajam sejak wabah COVID 19 di ketahui dan diumumkan dan suatu hal yang sangat menghilangkan suatu harapan yaitu tidak diketahui wabah ini kapan akan berakhir, dan saat ini masih mengandai – andai dan semuanya masih menunggu kehadiran Vaccine untuk menjawab ini semua dari aspek kesehatan.

Sekarang sudah ada jawaban untuk pengatasan terhadap kesehatan yaitu melalui Vaccine, tapi itu sudah selesai menjawab untuk reborn terhadap sector pariwisata ? hal tersebut tentu tidak semudah yang dapat kita pikirkan. Scenario – scenario yang telah dirancang seperti tergambar diatas terhadap pola perubahan dari bulan ke bulan dari bulan April sampai dengan Desember 2020 bahkan sampai dengan tahun 2021, bila perjalanan dan pembatasan itu mulai dicabut serta merta dapat terjadi spin up begitu saja, bila kita melihat anjlok nya sampai dengan – 78% bahkanlah mudah begitu saja untuk dapat kita anggkat, ditambah hilangnya jutaan pekerja di sector pariwisata yang telah mengalami dampak dari COVID 19. Kesemua itu diperlukan suatu penyehatan kembali dari semua pihak, baik dari sisi stakeholder pariwisata, pemerintah dan masyarakat.

Saat ini seluruh stakeholder pariwisata bagaikan seorang athlete olahraga menghadapi pengujung berakhirnya pertandingan dan atau sedang menghadapi injury time dan menghadapi situasi antara menang dan kalah, disaat kritis tersebut maka seorang athlete memutuhkan VO2 Max yang cukup untuk memenangi pertandingan tersebut yang sering disebut membutuhkan 2nd win bila hal tersebut tidak dimiliki oleh seorang athlete atau teamnya kemungkinan mengalami kekalahan itu adalah sangat besar. Oleh karena itu mari diperhatikan apa proyeksi global terhadap perekonomian bila COVID 19 ini berakhir diperkirakan spin up economic ini baru akan mencapai 3,0% pada quarter akhir 2021, melihat diperlakukannya PPKM tentu untuk capai angka tersebut kembali perlu dipertanyakan, dalam posisi tersebut pun para stakeholder masih dibutuhkan effort yang besar untuk dapat melewati tahun 2020 dan memasuki tahun 2021 untuk menuju aktivitas normal economic yang diperkirakan akan naik sekisar 5,8%

 Untuk itu mari kita lihat dan mencoba melakukan SWOT Analysis

STRENGHT

  •  Ketahanan pariwisata yang terbukti dalam krisis masa lalu·
  • Pariwisata domestik bisa menjadi penyangga
  • Kapasitas adaptasi: protokol keselamatan dan kebersihan, vaccine, perjalanan lebih dekat ke rumah, nilai uang, perilaku masyarakat yang bertanggung jawab·        
  • Dukungan pemerintah untuk sektor ini

WEAKNESSES

  • Segmen yang berpotensi terkena dampak juga merupakan pembelanja tinggi: internasional, jarak jauh, perjalanan bisnis, dan acara / event·        
  • Gangguan besar dalam industri penerbangan dengan kegagalan dan konsentrasi maskapai Kurangnya referensi pada penurunan sebelumnya·        
  • Persepsi perjalanan sebagai risiko·        
  • Rendahnya tingkat permintaan saat memulai kembali pariwisata karena jarak sosial

 OPPORTUNITIES

  • Pikirkan kembali model bisnis·        
  • Inovasi dan digitalisasi·        
  • Segmen berkelanjutan dan berorientasi berkelanjutan (pedesaan, alam, kesehatan)·        
  • Fase de-eskalasi yang diprakarsai oleh beberapa negara menuju ‘new normal’·        
  • Kemajuan dalam rencana adaptasi di destinasi & perusahaan

 THREATS

  • ·Lingkungan ekonomi: resesi dunia, meningkatnya pengangguran dan lapangan kerja berisiko, penutupan bisnis terutama biro perjalanan dan UKM, pendapatan yang dapat dibelanjakan,·          
  • ketidakpastian membebani kepercayaan konsumen dan bisnis·        
  • Durasi pandemi yang tidak pasti ( termasuk kebangkitan kembali ) dan vaccine ketidak tersediaan untuk beberapa daerah serta kesadaran masyarkat untuk melakukan vaccine·        
  • Tingkat penguncian dan pembatasan perjalanan·        
  • Bentuk ‘normal baru’ yang tidak diketahui 

Pandemi·        

  • Berapa lama pandemi akan berlangsung dan kapan pengobatan atau vaksin akan terjadi tersedia?·         Pencabutan pembatasan perjalanan dan tindakan penguncian ·        
  • Kapan negara akan mulai melonggarkan pembatasan dan bagaimana? ·        
  • Bagaimana aturan jarak sosial memengaruhi penawaran?·        
  • Kepercayaan Konsumen & Bisnis ·        
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan konsumen untuk kembali melakukan perjalanan?  ·        
  • Bagaimana perilaku perjalanan akan berubah? 

Dampak ekonomi ·        

  • Seberapa dalam dan berapa lama resesi global akan terjadi?·        
  • Apa yang akan menjadi keputusan pengeluaran kebijaksanaan ·        
  • Tindakan Pemerintah Bagaimana tindakan pemerintah mendukung pariwisata?

Memperhatikan dari hasil seminar tersebut tergambar masih tetap anggota IINTOA masih tetap terus berinovasi dan kreasi dan melakukan dan membangun networking secara terus menerus sambil menunggu dan melihat Langkah dan strategy dan  Kebijakan insentif dan langkah-langkah untuk meningkatkan pariwisata Indonesia dalam hal Target Tourism Policy, Special Recover Policy di bidang Pariwisata, Financial Support, Fiscal Policy,  Monetary policy  serta posisi SDM atau employment

Selamatkan Tour Operator Indonesia

Memperhatikan hasil seminar tersebut dapat disimpulan; tentu Indonesia tidak ingin kehilang dari pendapatan devisa dari sector pariwisata, dimana di tahun 2018 – 2019 sektr pariwisata berhasil menaih 16.5 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan kontribusi pendapatan sekitar 16.5 milliard USD, sector pariwissata tidak saja indirect income belum dari direct income, dimana wisatawan berbelanja kerajinan dan hasil product UKM, tidak sedikit nilainya.Jumlah kujungan wisatawan manca-negara masih sangat besar peluang pasar, karena kunjungan wisatawan ke zona Asia Pasific mencapai lebih dari 1 milliard lebih yang melakukan perjalanan. Dengan memperhaditikan kondisi biro perjalan wisata dengan tour operatornya yang dibawah naungan IINTOA tentu ini menjadi tantangan berat yang perlu mendapatkan perhatian agar para tour operators jangan sampai kehilangan energi, karena berbagai referensi menungungkapkan; bila para tour operator sudah tak berdaya dan atau chaos, maka dapat dipastikan pariwisata akan mengalami kelumpuhan. Dari hasil seminar tersebut masih terkandung secerca harapan. Dengan semangat kebersamaan diyakini Pariwisata Indonesia Psti Dapat Bangkit Mengingat Indonesia Memiliki Tempat Natural and Culture Landmark.

Share with:

FacebookTwitterGoogleTumblrStumbleUponLinkedInPinterestDigg


Categories

About the Author:

Teamwork makes the dream work, but a vision becomes a nightmare when the leader has a big dream and a bad team.

Leave a Reply

Translate »