Panduan Dalam Indusrtri Perjalanan di Travel New Normal

Panduan Dalam Perjalan Wisata
Panduan Dalam Perjalan Wisata

“Melalui Pariwisata mamapu menjadi menjadi wadah untuk mengatasi pandem. Dan menyatukan umat manusia dan Negara serta dapat meningkatkan solidaritas dan kepercayaan ”

Saat dunia menghadapi konsekuensi yang menghancurkan dari pandemi COVID-19, sektor pariwisata termasuk di antara yang terkena dampak paling parah. Perjalanan menurun, ketakutan meningkat, dan masa depan tidak pasti.

Pariwisata adalah pilar penting untuk Pembangunan Berkelanjutan. Mata pencaharian banyak orang bergantung padanya, Selain itu, di banyak belahan dunia, perlindungan keanekaragaman hayati sangat bergantung pada sektor pariwisata, dari konservasi hingga pendapatan yang dihasilkan dari upaya tersebut. 

Hanya melalui pariwisata mampu menjadi platform untuk mengatasi pandemi. Dengan menyatukan masyarakat, pariwisata dapat meningkatkan solidaritas dan kepercayaan – bahan penting dalam memajukan kerja sama global yang sangat dibutuhkan saat ini.

Masa COVID 19 tidak diketahui pasti kapan akan berakhir, berbagai Negara dan daerah telah berusaha mengatasasi terhadap pandemic ini. Dengan pandemic ini membuat berbagai Negara dan daerah menutup diri dan mengeluarkan berbagai peraturan serta menutup pintu rapat – rapat bagi pendatang untuk berkunjung ke Negara maupun daeran tertentu.

Setelah mulai mereda Covid 19 dikarenakan mulai para dunia kedokteran mulai mengetahui untuk pengatasannya. Kini berbagai Negara dan daerah pun mulai melonggarkan diri baik perbatasan di setiap Negara, Indonesia per 1 Juli 2020 sebagian daerah telah membuka diri bagi kunjungan wisatawan. Bali sebagai destinasi wisata utama Indonesia awal Agustus 2020 telah membuka diri bagi wisatawan baik domestic dan September mendatang bagi wisatawan manca Negara.   

Menyerukan stay at home, lock down condition dan habisnya PSBB, tentu ini merupakan secerca harapan bagi dunia pariwisata untuk dapat mulai mengeliat kembali, dengan tidak meninggalkan tanggung jawab bagi tour operator guna menjaga agar tidak menjadi mesin carrier COVID 19 dan membonceng diri melalui kegiatan yang dilakukan oleh tour operator yang dapat mengakibatkan fatal dalam kegiatan serta menjadi bagian dari pendistribusi COVID 19.  

Pemerintah Perlu Memperhatikan Peran Tour Operator

Tour Operator mempunyai peran penting dalam menjalan kegiatan mau pun usahanya dan merupakan engine pengerak roda ekonomi dan pendapatan devisa dari sector pariwisata, oleh karena itu dipendang perlu bagi biro perjalanan / tour operators mengeluarkan task to job baik oleh Association Perjalan / perusahaan Perjalanan suatu panduan baru untuk disebut normal baru / health protocol guna menghindari suatu carrier COVID 19 bagi wisatawan mau pun distinasi yang dikunjunginya.

Pedoman terhadap tour operator Indonesia telah pernah memiliki, seiring dengan saat ini, tentu pedoman – pedoman yang perna dibuat selain sudah lama perlu kiranya di up date kembali sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini. Dalam menyusun pedoman saat ini dipandang perlu mendapatkan bantuan dan atau kepelatihan oleh para medis tentang hal – hal yang perlu dicapai dan perhatian terhadap semua nilai – nilai potensi penyebaran COVID 19 serta pencegahan dan moniroring / inspection yang harus dilakukan oleh tour operators, terutama dengan kebijakan kebersihan dan kesehatan yang baik dilingkungan kerja sampai selama perjalan, seperti feature physical distancing, memakai masker, cuci tangan serta sentuhan / media yang rawan terhadap pemyebaran COVID 19, dan langkah – langkah inspection oleh tours operator terhadap distisnasi dan fasilitas [ supply tourism products ] yang akan diberikan / pergunakan oleh client / wisatawan yang disediakan.  

Untuk kepentingan tersebut Assosiasi / NGO bersama pemerintah perlu menyusun panduan baru mulai dari stakeholder pariwisata serta wisnus dan wisman diperlukan diberikan panduan. Program up dating operation procedure bagi tour operators tentu akan merupakan bagian dari kesiapan penyampaian untuk diketahui pihak industry perjalanan / tour operators serta kepada public baik nasional maupun international, bahwa Indonesia telah memiliki suatu standard yang tinggi dengan memberikan pelayanan paripurna dengan total satisfaction and care, dengan standard yang sama diseluruh Indonesia baik oleh pelaku pariwisata, pemerintah pusat dan daerah serta security sama – sama mengethui dan mematuhi tentang standard yang diberikan dan atau yang diterapkan terutama terhadap kepuasan dan perlindungan konsumen terutama terhadap resiko terjangkit dan menjangkitkan COVID 19, apakah dengan Kiwi services, Amex services  atau Pesona Services yang pernah dianut di Indonesia selama ini diberikan, yang juga pernah disusun dalam sebuah buku khususnya bagi biro perjalanan. Kenapa hal ini kami ungkapkan karena melihat kini hampir diseluruh Indonesia biro perjalan tumbuh bagaikan jamur diseluruh Nusantara, dan pertanyaan apakah mereka pernah tahu dan juga pernah mendapatkan kepelatihan oleh para accessor, tentu dimasa pandemic ini pemerintah perlu memberikan dukungan kepalatihan / perhatian dan penyegaran kemabali, agar dapat memenuhi standard dan sekaligus me-review kembali di kondisi New Normal baik dalam keadaan situasi saat ini atau after COVID 19 berlalu.

Kenapa kepelatihan ini perlu dilakukan agar para pemimpin dan para polikus dan masyarakat tidak saja di dalam negeri tapi dunia international sama – sama melihat bahwa industry pariwisata Indonesia telah menetapkan suatu standard dengan Kemampuan Sumber daya Manusia yang professional dalam menetapkan standard yang tinggi untuk mengurangi resiko terhadap corona virus dalam business pariwisata Indonesia yang dilakukan oleh para pelaku business pariwisata Indonesia yang telah melakukan setiap fase pengalaman perjalanan. Tidak hanya menampilkan fase perjalan yang dilakukan di Negara orang seperti beberapa waktu yang lalu di webinar dilakukan memperlihatkan dan menjelaskan bagaimana kesiapan di negeri orang.

Setelah diberikan kepelatihan dan walaupun penyuluhan telah disampaikan oleh Kementerian Pariwisata dan Kreative hal tersebut belum dirasakan cukup hanya melalui penyuluhan perlu dilakukan lebih dari itu yaitu melalui kepelatihan dan langkah nyata. Saat ini belahan dunia telah membuka diri bagi kunjungan wisatawan, oleh karena itu wisatawan perlu dibangun percaya diri untuk melakukan perjalanan, karena selama ini masyarakat masih mengalami travel shock dikarenakan begitu besarnya peran media menyampaikan effect COVID 19 terhadap kehidupan manusia sejak dari dari bulan Januari 2019 sampai saat ini.  

Ketika perjalan wisata dibuka, diperkirakan wisatawan baik domestic maupun wisman perlu dikembalikan kepercayaan diri para traveler bahwa langkah – langkah keamanan sudah dilakukan oleh setiap distinasi wisata dan tours operator perlu memberikan penyuluhan kepada client-nya mulai dari pemberangkatan dari awal daerah atau Negara wisatawan itu diberikan penjelasan dan kesepahaman. Sebagaimana telah diketahui beberapa Negara telah membuat joint agreement melalui yang disebut “ travel bubble “ walau pun dalam pelaksanaan masih cukup sukar dilaksanakan karena diperlukan beberapa persyaratan dari masing – masing daerah atau Negara terutama terhadap pengontrolan virus corona serta new protocol and health protocol yang diterapkan mungkin masing – masing Negara dan daerah berbeda termasuk pengetahuan masyarakat terhadap peraturan yang diterapkan, dalam penerapan. Indonesia baru akhir bulan Juli 2020 akan menyelesaikan dengan beberapa Negara atas perjanjian travel bubble.  Sekalipun Indonesia telah membangun travel bubble dengan Australia, tapi terlihat masih belum terlalu effective, dan tentu kesemuanya itu tentu perlu mendapatkan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, tapi kami yakin Bali dapat melakukan hal tersebut, karena baik pemerintah maupun masyarakatnya telah terbangun tourism mindedness

Let’s we make our tourism Happy and beautiful The secret to Happiness. Whatever you are doing, don’t let the past move your mind; don’t let the future disturb you. Because, the past is no more, and the future is not yet, to live in the memories, to live in the imagination, is live in the non existential, you are missing what is existential, you will miss your whole life. Let corona pass a way then we go to new life “ Through tourism make a better life “

Sampai saat ini walau pun negara – negara dan pemerintah RI sudah menyatakan di buka beberapa distinasi baik Pemerintah Pusat dan masing – masing Daerah telah menyatakan membukan diri, Bali sudah memulai penerimaan untuk wisatawan domesitik, dan untuk International direncanakan pada bulan September 2020 mendatang, Pemerintah Belitung telah menyatakan membuka diri sejak 1 Juli 2020, tapi semuanya masih terlihat bergulat dengan gagasan masing – masing termasuk dunia assosiasi stakeholder pariwisata.  Oleh karena itu kiranya Pemerintah perlu mendesak dan membangun joint agreement / statement dengan WHO, UNWTO, IATA, IMO, WTCF, IHRA, PATA dan organisasi terkait lainnya untuk international. Dan untuk dalam negeri sendiri diperkirakan perlu duduk bersama antara pemerintah membuat kesepakatan bersama dengan  tourism / travel association, seperti, INAKA, PHRI, ASITA. ASTINDO, ASATI, Kementerian Perhubungan dan Kesehatan,  GIPI, , PUTRI IINTOA [ sebagai tour operators ] atau pelaku yang direct and indirect interaction terhadap traveler.  Bila semua pihak telah membangun kesepakatan dan uniform tentu akan terbangun psychologist positive kepada wisatawan dan tidak akan timbul berpotensi gelisa dan tentu akan teras aman oleh wisatawan serta dilindungi ketika mereka melakukan perjualanan atau kunjungan sesuatu daerah atau Negara khususnya berkunjung ke Indonesia.

Dokumen ini menyoroti pertimbangan kesehatan dan hak asasi manusia utama terkait dengan pandemi COVID-19. Ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam menanggapi COVID-19. Ini memberikan pertimbangan utama dalam kaitannya dengan menangani stigma dan diskriminasi, pencegahan kekerasan terhadap perempuan, dukungan untuk populasi yang rentan; tindakan karantina dan pembatasan serta kekurangan persediaan dan peralatan. Ini juga menyoroti kewajiban hak asasi manusia sehubungan dengan kerja sama global untuk mengatasi COVID-19.

Sebagaimana diketahui bahwa assosiasi stakeholder yang bergerak di bidang pariwisata telah memberikan penyuluhan kepada seluruh tenaga kerjanya dalam mempraktekan kebersihan serta melakukan langkah – langkah pencegahan seperti physical distancing and health protocol terutama pengetahuan tentang carrier covid 19. From tourist to people, and from people to tourist and inspection to supply tourism products. 

Kenapa aspect pelayanan tetap penting di New Normal di bidang pariwisata tidak hanya dengan pendekatan technology, karena sebagaimana diketahui ICT technology just make the work better, sedangkan Digital technology know human being better. dulu human like a machine, now human make a machine like a people. perlu diperhatikan oleh mereka yang di bidang pariwisata perlu melakukan antisipasi hal tersebut diatas, karena industri pariwisata different with other industry behavior, industri pariwisata harus menjadikan machine like a machine, people like a people. ” Machines will never able concurred human being, yes machine is smart, machine is stronger, machine faster, but machine doesn’t have any feeling, and haven’t any value but the people have. so we can’t make a machine like human being.”  Pariwisata bukan sebagai sebuah laboratory dan manusianya tidak dapat dijadikan sebagai kelinci percobaan, tentu akan ada yang menjawab kita saat ini tidak mempergunakan IT technology, tapi mempergunakan Digital Technology untuk pariwisata untuk itu dapat saya katakan bahwa IT Technology we compare with muscle, Digital Technology compete with brain. but service need with human touch. because human have a feeling, concern and love. IT dan Digital Technology tidak memiliki itu.    

Khusunya bagi hotel – hotel perlu memperbaiki kebijakan kebersihan mereka dengan penerapan technology hotel seperti penyemprotan electronic dengan disinfectant setingkat rumah sakit dan plat form interval kekosongan 24 jam antara masa inap tamu, dan mungkin dari pihak public health perlu lebih pro active dan bila memungkinkan SG clean terdapat diseluruh public area yang dapat memberikan wisatawan / pengunjung tenang   termasuk dan resort, karena wisatawan total hours mereka paling lama berada disuatu tempat adalah di akomodasi, transportasi dan resort, oleh karena itu perlu inpection and monitoring betul – betul perlu mendapatkan perhatian

Sejak pandemic ini pemerintah maupun  NEA [ National Environment Agency ] telah menyerukan dan meluncurkan 7 Kebiasaan Kebersihan Umum yang Baik”, untuk mengingatkan anggota masyarakat tentang pentingnya menegakkan praktik kebersihan pribadi yang baik, dan untuk menanamkan rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap kebersihan ruang bersama, khususnya di tempat yang tinggi. lalu lintas ruang publik seperti toilet umum, pusat jajanan, dan ruang komunitas. Meskipun kebiasaan ini tidak lengkap, mereka mewakili beberapa langkah sederhana setiap hari yang dapat dilakukan setiap orang untuk bertanggung jawab secara sosial, dan berkontribusi terhadap standar kebersihan pribadi dan publik yang lebih baik di sekitar kita. Anggota masyarakat didorong untuk mengadopsi “tujuh kebiasaan” berikut dari praktik kebersihan publik yang baik setiap saat terhadap 7 Kebiasaan Kebersihan

  1. Jaga kebersihan dan bebas hama;
  2. Kembalikan baki dan jaga kebersihan meja;
  3. Jaga toilet tetap bersih dan kering;
  4. Cuci tangan secara teratur dengan sabun;
  5. Ukur suhu tubuh dan periksa ke dokter jika tidak sehat;
  6. Gunakan jaringan saat bersin atau batuk; dan
  7. Tempat sampah dan jaringan yang kotor.

Share with:

FacebookTwitterGoogleTumblrStumbleUponLinkedInPinterestDigg


Categories

About the Author:

Teamwork makes the dream work, but a vision becomes a nightmare when the leader has a big dream and a bad team.

One Comment

Leave a Reply

Translate »