Mengikuti Virtual Video Conference / Webinar IINTOA





Dunia Pariwisata kini sudah mulai secara bertahap telah membuka diri, dari penyebab penyebaran COVID 19. Secara bertahap pula penyebaran virus ini mulai dapat di bendung dan diatasi. Kondisi di setiap negara di dunia penanganan pandemic COVID 19 dilaksanakan sungguh-sungguh, dan  penyebaran COVID 19 bertahap telah berkurang, demikian diumumkan oleh organisasi pariwisata dunia [ UNWTO ].

UNWTO yang bermarkas di Madrid menginformasikan bahwa 48 destinasi wisata di Europe telah melonggarkan pembatasan terhadap kunjungan wisatawan asing, meskipun masih ada 141 daerah tujuan wisata sekitar 65% masih belum dioperasionalkan dan atau belum dibuka secara umum.

Dalam laporan UNWTO “COVID 19 Pembatasan perjalanan terkait tinjauan global untuk pariwisata” menjelaskan bahwa 37 dari 48 daerah tujuan wisata yang mulai membuka pembatasan perjalanan di Europe, termasuk 24 dari 26 negara bagian di wilayah perjalanan Schengen.

Di Indonesia mulai awal bulan Juli hampir seluruh provinsi telah membuka diri bagi mereka yang mau melakukan pejalanan dengan tetap memperhatikan New Normal Protocol diantaranya masih ada daerah yang masih memerlukan rapid test atau swab, dan sudah ada yang tidak perlu, tetapi seluruh penerbangan di Indonesia masih memberlakukan persyaratkan adanya rapid test bagi penumpangnya.

Ketika berita boarder mulai dibuka, disambut gembira oleh berbagai pihak tetapi dibukanya pintu ini baru untuk manusia atau barang dapatberlalu lalang. Kebangkitan di  sektor ini masih terlihat lambat dalam pergerakannya   setelah tiga bulan dapat dikatakan lumpuh total diseluruh distinasi wisata di dunia.

Dimasa COVID 19 ini ternyata IINTOA [ Indonesia Inbound Tours Operators ] tidak tinggal diam menunggu nasib, tetapi telah melakukan berbagai upaya dan menghubungi patner kerja / klien di seberang jauh di sana untuk tetap menjalin komunikasi dan memberikan kesempatan kepada Inbound Tour Operator untuk menyampaikan kesiapan dari masing – masing daerah,  sambil mengetahui kondisi seutuhnya di negara asal wisatawan masing – masing.  Di samping pelaku pariwisata Indonesia ingin mengetahui kondisi COVID 19 di negara masing-masing, dan bagaimana keadaan pasar di mana dapat mempersiapkan  kemungkinan – kemungkinan adanya requirement terhadap health & New Normal Protocol, yang semuanya disampaikan melalui  Webinar / Video Meeting Conference.

VIRTUAL VIDEO CONFERENCE IINTOA

Dari hasil Webinar yang dilakukan oleh IINTOA dengan VITO dan tours operator dari beberapa negara, seperti dari Perancis, Rusia, bahkan China, semuanya masih terlihat wait and see dan masih belum banyak mendapatkan respond positive, sekalipun sebagai mana #traveltomorrow, / #besok. mungkin kata #besok yang disampaikan jangan sampai #besok nya orang Jawa tidak tahu kapan. Sekalipun di Eropa sudah slowly reopening.

Webinar ini dibuka dan diawali oleh Ketua IINTOA Paul Edmundus Talo dengan menyampaikan bahwa hari ini diadakan untuk mengetahui tentang potensi dan prospektus Pasar Wisata Daratan Tiongkok. Dalam acara pembukaan ini dengan didahului memperkenalkan beberapa para tours operator yang hadir di Virtual Video Meeting ini, serta memperkenalkan sdri. Madeline dari VITO yang berada di Tiongkok, disampaikan bahwa Madam Madeline cukup fasih mempergunakan bahasa Inggeris dan juga sebagai seorang akademisi. [ red. pantas paparannya sangat terstruktur dan sistimatis ] webinar ini di motori oleh Jongki Adiyasa dari IINTOA.

Setelah acara perkenalan dan penyampaian tujuan dari webinar ini dilakukan, Ketua IINTOA mempersilahkan bapak Sigit Witjaksono, Ditektur Promosi Regional II Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI untuk menyampaikan kata sambutan dan sekaligus  membuka acara ini. Beliau  menyampaikan informasi tentang kondisi pariwisata yang terkini. Setelah menyampaikan semua informasi yang penting dan sekaligus menyampaikan selamat untuk melakukan Webinar yang diselenggarakan oleh IINTOA dan di mana pihak Kementerian sangat mendukung terhadap inisiative dan mengucapkan terimakasih atas inisiasi dan terlaksna program serta kegiatan ini oleh IINTOA. Setelah menyampaikan pesan kemudian beliau harus terpaksa meninggalkan pertemuan karena ada acara webinar pemasaran yang dilaksanakan oleh Kementerian Pariwisata yang juga sedang berlangsung. 

PENYAMPAIAN DARI MADELINE 

Dari paparan Madeline VITO yang berkedudukan di daratan Tiongkok menyampaikan bahwa China masih belum buka untuk pasar outbound dan masih concentration terhadap domestic market mereka.  Materi yang disampaikan ter-bagi 4 aspect yaitu 1. Government Action, 2. Covid 19 Condition, 3. New Policy, 4. China Market.

Yang menarik dalam paparannya bahwa pemerintah China Meluncurkan Kesepakatan Baru dengan pihak CCAC dan mengumumkan tentang new arrangement mereka terhadap penerbangan International akan mendapatkan incentive sebagai berikut:

Bila setiap penerbangan tidak mendapatkan passenger positive COVID 19, penerbangan tersebut akan mendapatkan jadwal penerbangan 3 x dalam 1 minggu, dan dapat mengajukan dari 1 menjadi 2 penerbangan.

Bila Penerbangan ditemukan 5 penumpang terdapat positive COVID 19,  maka penerbangannya akan di suspend selama 1 minggu dan bila terdapat 10 positive akan di suspend selama 4 minggu

Note : Memperhatikan hal tersebut tentu National Flight Carrier Indonesia seperti  [ Garuda Indonesa ] sudah dapat mempersiapkan diri membuka kembali jalur penerbangan Inbound dengan bekerjasama dengan IINTOA. 

Dari data yang di dapat bahwa wisatawan China sudah mulai bergerak, outbound tourist mereka mungkin sekitar 45% akan mereka lepas, sekalipun masih berkonsentrasi terhadap domestic market.

Hal tersebut dapat diamati “Rebound” Perjalanan wisata dalam negeri begitu cepat kembali selama Golden Week Holiday pada bulan Mei di China,  di mana dapat diamati; peran integral industri pariwisata global pasca ditutupnya seluruh perbatasan dikarenakan pandemic Covid 19 , tetapi sebagaimana dilaporkan oleh pelaku usaha perhotelan di China kini telah mencapai 45% sebagaimana yang diutarakan di atas dan kawasan wisata/ resort mencapai sekitar 70%, persentasi tersebut menunjukan peningkatan yang sangat significant dan cepat dalam wisatawan domestic movement.

BALI MASIH TETAP PALING MENARIK

Ketika Madeline memaparkan ada data menarik yang ditampilkan, bahwa setiap tahun outbound wisatawan dari daratan Tiongkok naik dari tahun ke tahun sekitar 4.5% dan di tahun 2019 menunjukan outbound tourist mereka berkisar sekitar 170 juta orang melakukan perjalanan keluar negeri, ini tentu menjadi potensi pasar wisata cukup besar, dan kini hampir seluruh tours operator di dunia berusaha merebut pasar dari daratan Tiongkok, dan dari data kunjungan wisatawan dari daratan Tiongkok ke Indonesia baru bersekisar 1.6 Juta sd 2 juta wisatawan, Bali masih tetap menjadi destinasi favorite bagi wisatawan  daratan Tiongkok.

Dalam pertemuan webinar tersebut sempat pak I Ketut Ardana, S.H. menanyakan tentang profile wisatawan yang diperkirakan i setelah COVID 19 nanti berakhir, apakah wisatawan China melakukan perjalanan dalam bentuk  GIT atau FIT, Madeline kemudian memberikan gambaran profile wisatawan Tiongkok. Madeline menggambarkan bahwa wisatawan Tiongkok diperkirakan akan mulai recovery diperkirakan setelah bulan September 2020 dan length of stay rata-rata 5 sd 4 hari untuk daerah negara ASEAN.

Bentuk wisatawan pasar tertinggi yang akan melakukan perjalanan adalah bersama pasangannya [ with partner ] urutan ke 2 dengan anak-anak, urutan ke 3 bersama orang tua [ parent  and parent in low, urutan ke 4 addalah bersama sahabat [ friend ] dan yang ke 5 adalah bersama kelompok lainnya [ relative ]

Yang menarik dalam presentasinya disampaikan tentang GEN Z atau terhadap population consumption / pendapatan dan pengeluarkan oleh masyarakat Tiongkok serta GEN Z yang melakukan perjalanan dalam setahun, dijelaskan yang di dapat dari survey sekitar 16.77% mengatakan karena pandemic terjadi pembatasan perjalanan yang ada, sehingga terjadi perlambatan terhadap konsumsi pariwisata., Disampaikan juga suatu keyakinan bahwa konsumsi terhadap pariwisata akan cepat meningkat setelah pandemic ini berakhir. Disampaikan juga minat GEN Z senang melakukan perjalanan dengan teman mencapai 64.6% dan bersama keluarga berkisar 54.66%.  Ada data manarik yang disampaikan GEN Z menyaksikan melalui media Video mencapai 53.9 menit perhari. Adapun materi video yang ditonton contain pada umumnya adalah mengenai pariwisata. Data – data yang ditampilkan tentu sangat berguna bagi inbound tour operators untuk mengambil langkah, strategy serta scenario guna meraih pasar dari daratan Tiongkok.

Note : Mengapa data – data tersebut diangkat kembali dalam tulisan ini, karena pada umumnya kita sangat kurang memperhatikan data – data untuk mengambil langkah dan strategy, sehingga akan kehilangan factor efficiency, baik itu self, think and group efficiency yang perlu disikapi oleh para inbound tour operatosr, dan mungkin sedikit juga peserta yang mengikuti webinar ini yang menyimak dan mencatatnya

Ketika disampaikan data GEN Z market China terhadap 50 kota favorite yang ingin dikujungi, ternyata tidak hanya Bali saja untuk Indonesia tapi Manado juga menjadi salah satu favorite bagi wisatawan dari daratan Tiongkok.  Dari data tersebut ternyata Bali masih dibawah Bangkok dan Tokyo – Jepang, tapi di atas Osaka, Seoul, dan Chiang Mei.  Untuk hal yang perlu dicatat ternyata market China yang dilakukan memperioritaskan health and safety yang diutamakan. masih banyak data yang telah disampaikan dan tidak saya ungkap dalam kesempatan ini. Bila bahan presentasi tersebut dibutuhkan mungkin dapat diminta kepada moderator webinar yang menyelenggarakan kegiatan ini. Karena materi sebelumnya telah dipunyai oleh moderator/ committee penyelenggara virtual video meeting. [ Note : Untuk GEN Z. Indonesia telah juga mengkaji tidak hanya sampai GEN Z tapi GEN X sebagai perbandingannya. ]

Ada beberapa hal yang menarik ketika Joko Purwanto dari Balikpapan menanyakan; Apakah sudah pernah tahu tentang Borneo? Djoko memperkenalkan potensi Pariwisata provinsi Kalimantan terutama potensi eco-wisata yang dimiliki. Pertanyaan itu kemudian di balas dengan suatu pertanyaan.  “Apakah disana memiliki Museum?”  Memang kita mengetahui bahwa wisatawan dari daratan Tiongkok selain tertarik keindahan alam flora dan fauna di Indonesia, mereka sangat menyenangi dan menghargai terhadap suatu budaya dan sejarah. Pada kesempatan tersebut disampaikan dan dijawab Ada – oleh sdr Joko;  Bahwa Kalimantan/ Borneo memiliki sejarah yang sangat tua dan exotic culture yang masih sustain sampai kini, terutama budaya Dayak yang terdapat di pedalaman – suku terasing / orang Suku Dayak dengan kuping panjangnya / Telingaan Aruu masih dapat ditemui disana.

PARIWISATA INDONESIA MULAI MENGELIAT

Dimulainya kembali pariwisata adalah sangat penting untuk mata pencaharian bagi berbagai usaha ekonomi nasional, terutama menambah dibukanya distinasi wisata tentu akan semakin banyak tujuan yang dapat dilakukan. Bila pembatasan bagi mereka untuk berwisata dan berusaha dibuka maka bagi inbound tour operators dapat mengambil langkah dan strategy untuk usaha mereka.

Di Indonesia sendiri mulai tanggal 1 Juli 2020 beberapa daerah membuka diri walaupun masih terdapat beberapa pembatasan termasuk perlu adanya perhatian terhadap protocol New Normal dan Kesehatan di destinasi wisata atau tempat2 lainnya.

Mulai dibukanya kembali pintu masuk dan keluar dan kegiatan pariwisata diberbagai wilayah Indonesia adalah menjadi sangat penting yang berarti roda mata pencarian dan roda business mulai bergerak, semakin lebar dibukanya perbatasan/ daerah distinasi wisata yang telah green area distinasi wisata tentu akan mampu mengerakan ekonomi micro dan makro, karena pariwisata dapat menjadi engine penggerak roda – roda perekonomian lainnya.

Meskipun pembukaan kembali dan pemberian keringanan ter-hadap pembatasan/ closing border tidak berarti bahwa krisis pandemic ini telah berakhir, dan tentu disambut dengan baik tetapi berbagai instansi dan organisasi perlu bekerja lebih keras guna mengurangi dampak COVID 19 Carrier yang lebih melebar. Sampai kita dapat memastikan masalah COVID 19 ini betul – betul telah mereda di Indonesia dan seluruh dunia, dan sudah tentu pariwisata mampu menjadi locomotive untuk menarik gerbong – gerbong mikro dan makro economi.

Yang luar biasa dalam Virtual Video Conference ini ternyata anggota Inbound Tour Operator Indonesia mampu mempergunakan bahasa Manderin yang sangat fasih seperti dari Sumatera Utara dan Bali. ketika pak Pak Robert dari Horas Tour mempergunakan bahasa Madarin yang hampir tidak ada cacat berbicara dalam bahasa Mandarin seperti orang dari Darat Tiongkok, ketika memperkenalkan potensi wisata destinasi Sumatera Utara seperti Danau Toba dan lainnya.

Memang diketahui tours operator dari Daratan Tiongkok sangat senang bila berhubungan dan berkomunikasi dengan tours operator Indonesia yang mampu mempergunakan bahasa Mandarin dalam berkomunikasi dan transaction travel business.

Dipengujung virtual video conference ini moderator / Yongki Adijasa sempat – sempatnya memperkenalkan dan memberitahu ada satu destinasi wisata pulau / pantai yang masih baru dan cantik atau exotic yaitu Pulau Belitung.

Jangan Ketinggalan Ikuti Webinar Mendatang

Karena IINTOA tidak tanggung-tanggung menurunkan Guru Besar Pariwisata Indonesia di Webinar mendatang, Bila diibaratkan di perguruan pencak silat IINTOA tidak tanggung-tanggung menurunkan Guru Besar Perguruannya guna menghadapi serangan COVID 19 ini.

Drs I Gde Ardika 

Menteri Pariwisata RI periode 2000 – 2004,  Seorang Pejabat Kementerian Pariwisata & Akademisi Kawakan di Bidang study Pariwisata                          

Dr.H. Sapta Nirwanda

Wakil Menteri Pariwisata RI Periode 2011 – 2014. Negosiator dan Network Pasar Wisata Ulung

                                                                                             

Share with:

FacebookTwitterGoogleTumblrStumbleUponLinkedInPinterestDigg


Categories

About the Author:

Teamwork makes the dream work, but a vision becomes a nightmare when the leader has a big dream and a bad team.

Leave a Reply

Translate »