Phenomena dan Sekulumit SejarahTahun baru Imlek dan Gong Xi Fa Cai di Indonesia

Tahun Baru Imlek di tahun 2019 / 2570 merupakan tradisi budaya dan Almanac yang lahir di Daratan Tiongkok yang dipergunakan untuk perhitungan dari perputaran bulan. Harmony Festival yang akan berlangsung di Bangka yang diselenggarakan pada tanngal 4 Febuary 2019 perlu diacungkan jempol, termasuk pemerintah daerah Propinsi Babel dan Kabupaten memberikan izin kegiatan ini, tentu kegiatan ini diharapkan mampu menjadi permanen event tidak saja untuk Propinsi Babel di Bangka, tapi lebih dari itu mampu diangkat menjadi permanent event.  

”Imlek” Hanya Ada di Indonesia,

Pertama – tama kita harus bangga sebagai  Bangsa Indonesia dimana bangsa yang mempu menghargai suatu budaya umat manusia dan kita bangga pula bahwa satu satunya negara yang merayakan setiap event baik keagamaan dan kebudayaan maupun event international mulai, dari Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, Idul Adha, Tahun Baru Islam, Maulud Nabi SAW, Paskah, Isra Mi’raj, Waisak, Nyepi,  Natal, Tahun Baru sampai ke Imlek, tiada satu negara pun di dunia ini yang setiap peringatan hari – hari tersebut diperingati dan menjadi libur nasional Ini Menunjukan Bangsa ini adalah merupakan Bangsa yang besar yang mampu menghargai setiap Budaya dan Agama.

Tidak banyak yang tahu bahwa perayaan yang disebut Imlek sebetulnya hanya terdapat di Indoneseia, tidak terdapat dibelahan planet bumi ini, termasuk di negara ASEAN, di beberapa negara ASEAN disebut Luna New Year. seperti di Vietnam. Luna New Year atau disebut Tet dirayakan besar-besaran.

Sebutan “imlek” lahir melalui proses serapan penduduk Nusantara terhadap istilah Hokkian, “Yin Li”. yang artinya Luna, penghitungan calendar China sama dengan penghitungan Islam mempergunakan pemutaran bulan,  Perayaan ini disebut juga Chunjie bila diterjemahkan secara bebas berarti festival menyambut bulan Semi.  Tentu mengingat di Indonesia tidak ada bulan Semi, jadi kalau disebut Chunjie akan menjadi aneh, di Indonesia tidak ada musim Semi. Sebagian masyarakat Ethnic Tionghoa terutama di Bangaka Belitung juga dikenal dengan ucapam Sin Cia

Tata Wajah, Tata Lampa, Tata Wilayah, begitu juga mengenai atau tentang hari raya Imlek, tentu kata Imlek pasti ada sejarahnya yang sudah banyak orang sudah lupa, dan bahkan salah interprestasi tentang hari penting ini. Sebenarnya hari Raya Imlek tidak saja untuk orang Tionghoa tapi untuk umat manusia. karena Imlek merupakan peringakan atau prosesi  suatu sustainability, dan perubahan musim dan keselamatan bagi masyarakatnya, berbagai upacara – upaca yang dapat kita temui di setiap daerah dan ethnic selalu ada. Untuk itu kami mencoba menurunkan tulisan ini untuk mengetahui serangkaian sejarah tentang Imlek, agar tidak salah dalam menginterprestasikan hari raya Imlek ini, untuk kita ketahui bersama.

Siklus kehidupan manusia; dibelahan dunia ini mempunyai dan mengikuti suatu siklus berdasarkan Almanac / penanggalan berdasarkan kepercayaannya. dan perintah oleh seorang baginda / penguasa, seperti Kalender Jawa yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan barbagai kerajaan pecahannya.  Penanggalan ini memiliki keistimewaan, karena memadukan sistem penanggalan Islam, dan sistem penggalan Hindu sedikit penanggalan Julian yang berupakan bagian dari budaya Barat. Bila kita mengikuti Kalender Jawa memakai dua siklus, yaitu siklus mingguan yang terdiri tujuh hari dan siklus pekan [ pancawarga ] yang terdiri dari lima hari. Di tahun 1625 Masehi atau 1547 Saka. Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menyebarkan agama islam di Jawa. salah atau upaya adalah mengeluarka dekret yang menggantikan penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kemariah atau lunar.  memang sedikit unik angka tahun Saka tetap masih dipakai dan diteruskan dan tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijrah. Hal ini dilakukan guna ada keseimbangan.

Imlek sendiri hampir tidak berbeda dengan sistem pengambil keputusan dari Almanac yang dipergunakan oleh manusia termasuk ditanah Jawa ini.  dimana sejarah penanggalan Imlek penggagasnya adalah Huang Di atau seorang Kaisai / Raja yang memerintah ketika itu di masa 2698 – 2598 SM – Raja Huang Di ini dikenal juga sebagai seorang ahli theology, karena pada zaman itu paling banyak di planet bumi ini banyak terciptanya penemuan – penemuan baru dari suatu peradaban di bumi ini.

Penggantian DInasti Berganti Almanac

Imlek dipergunakan dari system penanggalan karya Huang Di, kemudian diterapkan oleh pendiri Dinasti Xia [ 2205 – 2197 SM ] dengan Kaisar bernama Da Yi, yang juga merupakan seorang theology dalam community Khonghucu, kemudian dari Dinasti Xia jatuh diganti oleh Dinasti Shang [ 1766 – 1122 SM ], ketika Dinasti Shang, mempergunakan penanggalan Dinasti Shang dan ketika Dinasti ini runtuh diganti dengan Dinasti Zhou [ 1122 – 475 SM ] ketika itu penanggalan kembali mempergunakan penanggalan Zhou, sejak jatuhnya Dinasti Zou terjadi masa peperangan yang berlangsung sekitar hampir 254 tahun. yang kemudian baru mulai redah sejak munculnya Dinasti Qin [ 221 – 207 SM ]  dengan nama Kaisarnya Qing Shi HUang. di zaman tersebut terjadi pula perubahan kalenden di darata TIongkok, yang berarti sejak Dinasti Xia sampai dengan Dinasti Qin di daratan Tiongkok telah terjadi perubahan sampai 4 macam system penanggalan

 Kenapa Konghucu

Kita mengetahui sebenarnya Imlek adalah merupakan peringatan terhadap Konghucu yang hidup di [ 551 – 479 SM ], seorang philosophy.  Kala itu berkuasa Dinasti Zhou [ 1122 – 475 SM ], Kongfucu melihat dimasa tersebut masyarakat mayoritas hidup dari pertanian, maka beliau berpendapat system penanggalan Dinasti Xia yang paling tepat dan baik untuk perhitungan cocok tanam, karena merupakan awal tahun jatuh pada awal musim semi, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam pertanian. Maka ketika itu Konghucu menyarankan dan menyerukan agar kembali mempergunakan callender Dinasti Xi, namun ketika saran dan seruan tersebut mendapatakan tantangan dan tidak di gubris sama sekali oleh pemerintah saat itu. di dalam ajaran Kongfucu dikenal dengan kitab XV yang kemudian dipakailah sebagai pedoman hidup maupun penanggalan Dinasti Xia ajaran itu kemudian disosialisasikan oleh para pengikut atau murid-muridnya.

Salah satu bab  bunyi dari ajaran tersebut sebagai awal manusia berfikir dan bernalar, dimana dikemukakan bahwa ; manusia perlu menyadari tentang philosophy berfikir, dan berbuat sebelum kita ingin menjalankan hidup ini agar manusia itu tidak sesat dalam menjalankan hidupnya. Adapun pemikiran / ajarannya di antara adalah berbunyi kurang lebih begini :  “Bila manusia dapat sudah dapat mengetahui dimana tempat hentian, baru akan mengetahui ketetapan [ tujuan ] setelah diperoleh ketetapan baru dapat dirasakan ketentraman, setelah tentram baru dapat mencapai kesentosaan baru dapat berfikir benar, dengan berfikir benar barulah orang itu dapat berhasil. 

Akhir Dari Perjalan Penggunaan Calendar

Sebagai penggunaan penanggalan resmi negara baru pada Dinasti Han bulan 1 sebagai awal tahun sampai saat ini, yang sebelumnya berbagai Dinas terjadi perubahan

Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang ( menurut catatan tukang ramalan ) dan Zhou ( menurut Sima Qian ). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Mitos Tahun Baru Imlek

Menurut legenda, dahulu kala, Nián (年) adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan [ atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut ], yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Di percaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen.

Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián ( Hanzi tradisional:] 過年; bahasa Tionghoa: 过年 ), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “ Nian Telah Berlalu ” bukan berlalu tahun / mengingat bahasa Indonesia menganut MD bukan DM meaka Guo Nian diartikan Tahun Telah Berlalu. tetapi sesunggunay secara mitos menyatakan.  Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. atau Nien Telah Berlalu.

Dari Uraian tersebut maka menjadi penting dimana kegiatan Festival ini untuk dapat ditetapkan dan mempunyai kepastian agar ditetapkan menjadi calendar of Festival, kehadiran Pemerintah Daerah dan Kementerian ini tentu menunjukan adanya suatu keberanian untuk menetapkan bahwa Festival ini untuk dapat dijadikan calendar of event bukan hanya merupakan memperingati hari raya Imlek tapi mampu kegiatan ini menjadi satu2nya world class event untuk di Indonesia dan ditetepkan destinasi penyelenggaraannya bertempat di Pulau Bangka, yang memiliki history dan fisik one thousand Island Tempel

Kata Gong Xie Fa Cai

Saat perayaan Imlek, lazim kita mendengar orang-orang berucap Gongxi Fa Cai atau ucapan dengan lafal serupa. Banyak yang meyakini, Gongxi Fa Cai merupakan bahasa Mandarin dari Selama Tahun Baru / Imlek. Padahal, bukan sama sekali. Arti Gong Xi Fa Cai bukanlah selamat tahun baru, melainkan selamat berbahagia dan kaya raya.

Gong Xie Fa Cai banyak dipakai di Hongkong yang artinya mendoakan / Selamat menjadi kaya, phenomena ini dulu dapat ditemukan di hari Imlek dimana para proletariat  atau pengemis di Hongkong memberikan Selamat dengan Gong Xie Fa Cai kepada orang – orang kaya agar tambah kaya dengan harapan diberikan angpao.

Dahulu di Indonesia khususnya Bangka Belitung pada umumnya menyampaikan selamat tahun baru Imlek dengan kalimat yang lebih tepat yaitu, Sin Cung Kiong Hi, Chong Miang Fu Kui  artinya Selamat Menyambut Musim Semi, Panjang Umur dan Usia.

Hikmah Dari Tulisan dan Kegiatan Ini Dapat Di Simpulkan

Bahwa Pemerintah Propinsi Bangka Belitung Telah Mengetahui Dimana tempat Hentian dan mengetahui Tujuan dari Kegiatan Festval ini, Kemudian Menetapkan Kegiatan Festival ini dari Ketetapan ini diharapkan mampu membangun keharmonisan dan ketentraman guna menuju sentosa dan berfikir benar sehingga kemudian berhasil. Melalui Event ini diharapkan mampu membangun Pariwisata Propinsi Babel dan menjadi World Class Event di Pulau Bangka sebagai ibu Kota Propinsi Bangka Belitung.

Event ini dihadiri dan disaksikan oleh Kementrian Pariwisata RI, sungguh perlu diberikan appreciative, karena secara tidak langsung event ini tentu memiliki high great event atau world class yang dapat di angkat menjadi suatu permanent event dalam agenda kegiatan pariwisata nasional.  

Suatu hal yang membanggakan bahwa event ini adalah merupakan event yang di create oleh community tinggal bagaimana harus kita mampu melakukan DMO Destination Marketing Organization, dan ini tentu perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah pusat maupun daerah bersma – sama masyarakat yang telah memulai.

Dari Uraian Tersebut Diatas jelas bahwa kegiatan ini adalah merupakan kegiatan Budaya dan bukan kegiatan Ritual Agama. sehingga perlu dan berani kita berikan suatu thema pada kegiatan ini sebagai kebangkitan dan dijadikan Hari Culture and Ethnic Harmony National yang dapat diperingati setiap tahun di Pulau Bangka yang indah ini. Akhir kata kami sampaikan Go Xi Fa Cai We wish you the Brightness Succeed

Share with:

FacebookTwitterGoogleTumblrStumbleUponLinkedInPinterestDigg


Categories

About the Author:

Teamwork makes the dream work, but a vision becomes a nightmare when the leader has a big dream and a bad team.

Leave a Reply

Translate »