Pemain Tenis Meja Tahun 70 an Jawa Barat bereune

Wajah boleh berubah umur boleh bertambah semangat dan mencintai Tenis Meja mereka tetap tidak berubah dan membara terutama terhadap Tenis Maja Jawa Barat.

Sewi Pada suatu hari telephone HP berdering, nomor yang masuk tidak dikenal, kemudian diangkat diseberang sana, terdengar suara seorang wanita nan merdu, tapi suara khas yang satu ini rasanya pernah mendengar sangat familiar, tapi siapa gerangan karena sudah pulahan tahun suara ini tidak pernah ter-dengar lagi, biar waktu berlalu telah begitu lama suara menyapa maupun berteriak ketika sedang memekik berhasil meng-counter attack sebuah pukulan dari lawan dan atau mampu berkali – kali top spin dengan pukulan yang terarah terhadap seorang pemanin defend yang begitu alot dan melelahkan, itulah namanya Chandra Dewi salah satu pemain utama putri Jawa Barat yang memiliki pukulan atau stroke sangat lengkap.  Setelah ditanyakan siapa diseberang sana menelphone ? kemudian dia sebut namanya Chandra dari Tenis Meja masih ingat tidak Oom, ini awal pembukaan pembicaraan yang disampaikan, saya sebut ya ingat, kemudian dia menanyakan apakah ada waktu untuk berkumpul atau bertemu dalam suatu acara Halal bi Halal antar mantan pemain dan pengurus dan atau pembina Tenis Meja Jawa Barat. guna memberikan sprite terhadap keinginan besar dari para mantan athlete saya sampaikan respond akan hadir, beliau melanjutkan pembicaraan bahwa tempatnya akan diberikhabar kemudian, tapi waktunya sudah ditetapkan rencana pada tanggal 22 Juni 2019 mendatang.  Setelah beberapa hari kemudian dapat sebuah WA dimana pemberitahuan tempat berkumpul akan diadakan di Resort Dago Pakar pada jam 10.00 pagi tanggal tidak berubah.

Jimmi dan Kang Rachman

Pada tanggal tersebut tepatnya hari Sabtu sesuai tempat yang ditunjuk lalu mempersiapkan diri dan mengajak rekan juga sebagai ex-official pelatih physic apakah dapat ikut hadir dalam pertemuan tersebut, dan syukur bahwa beliau berkenan ikut hadir, sehingga kami berangkat bersama – sama ketempat yang telah ditentukan. Setiba ditempat bersamaan juga tiba Pak Rachman selaku ex team manager PON dan juga keberbagai event nasional lainnya dan juga sebagai ketua dari salah satu PTM yang cukup kuat dan disegani di Kota Bandung, Jawa Barat dan bahkan Nasional yaitu PTM Citepus yang berada di Kota Bandung.

35 tahun yang silam berbagai PTM di Kota Bandung tumbuh sangat kompetitive dan disegani oleh PTM PTM lain baik di Jawa Barat maupun Nasional, di Kota Bandung terdapat beberapa PTM seperti: PTM TV, PTM Wargi Jaya, PTM Margajaya, PTM Scorpio, PTM Ever Green kemudian diakhir masa kejayaan PTM, muncul PTM NHI yang dibina dari Lemdik Pariwisata, dan PTM – PTM lainnya dari PTM – PTM ini lahir berbagai pemain muda berbakat yang kemudian menjadi pemain nasional baik untuk putra maupun putri.  [ Seperti Abdul Rodjak, Otong Sudrajat, Alm Dadang Suratman, Lucky, Iqbal, alm Iskandan, Dadan S, Hendra Anton Suseno, Thoriq, Shinta Siregar, Beatrix, Chandra, Alm Ellyana, Evie Sumendap, Rossy Dipoyanti ] baik mulai dari tingkat Kadet, Junior sampai dengan Senior dan masih banyak sederatan pemain yang tidak disebut disini, PTM tidak saja hanya bertumpuk di Kota Bandung tapi menyebar ke Kota dan Kabupaten lainnya seperti Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Bogor bahkan sampai ke Indramayu. sehingga tak diherankan Jawa Barat disebutnya gudang atau lumbung athlete Tenis Meja Nasional dan bahkan menjadi barometer bagi pembinaan para clubs di Indonesia.

Beberapa hari kemudian kembali diterimanya WA bahwa pertemuan akan diadakan di Resot Dago Pakar pada jam 10.00 tanggal definitive yaitu tanggal 22 Juni 2019.  pas pada hari H tepatnya hari Sabtu kami datang ketempat pertemuan tersebut dan diperkirakan jam 11.00 tiba ditempat, bersamaan kedatangan kami datang pula pak Rachman selaku pembina dan ex team manager PON ke VII dan sekaligus sebagai Ketua PTM Citepus dan pengurus Pengda PTMS Jawa Barat juga tiba. setiba kami ditempat dimana telah ramai para ex pemain telah hadir,  dalam hati wah luar biasa para ex athlete ini sungguh disiplin masih seperti dulu juga begitu kita sebut nanti sore jam 4 sore kumpul untuk latihan sebelum jam tersebut sudah berkumpul sebelum kami hadir dilapangan, atmosphier tersebut langsung kami rasakan dan merupakan kenangan awal yang timbul dalam benak,  sungguh luar biasa ketepatan dan kedisiplinan waktu masih tetap terjaga sampai saat ini oleh para ex athlete Tenis Meja Jabar dan hal tersebut sungguh membanggakan.

Ketika kami bersama pak Rachman dan Jimmi tiba ditempat kami tanyakan dimana berkumpulnya pertemuan lalu petugas mengantar ke lantai dua, dan ketika masuk keruangan terlihat para athlete sedang bernyanyi dan bergembira, suasana itu kembali terhiasi dibenak,  bahwa seakan – akan mereka sedang melakukan victory kemenangan sambil berjoget menyambut di Final Match menutup dan memenangkan kejuaraan itu.  Kedatangan kami tidak mengurangi kegembiraan mereka lalu ramai datang mendatangi ke kami untuk menyelami dan mengantar ketempat yang telah disediakan. satu persatu datang memperkenalkan diri dan memang wajah mereka telah banyak berobah kalau dulu masih terlihat culun, tapi kini terlihat ganteng dan cantik, putri putrinya sudah bergincu dan accessories, kalau dulu hanya bertemu dengan bersimpu keringat dan track shirt dengan sepatu kets. kembali suasana itu membuat perasaan ketika itu dan merenungkan bahwa setiap selesai suatu match dan memenangkan dan atau kalah athlete itu menyamperi dan menyalami dan merangkul suasana hangat lama terasa kembali dan sangat mengharukan seperti ketika kita sedang merayakan suatu kemenangan.

Setelah duduk sebentar dan disuguhi minuman dan kue – kue, tak lama kemudian datang teman lama yang di lain alam, tapi kini kita berada di alam yang sama yaitu di alam Tenis Meja yang tidak pernah kenal pensiun dan juga tidak pernah mendapat pensiun yaitu kang Rachmat sebagai pembina Tenis Meja dari PTM NHI di sebuah Lemdik terkenal di Indonesia.

Alunan orgen masih tetap berdendang kemudian tiba – tiba berhenti terlihat Chandra telah memegang Mic menyampaikan welcome speak dan menjelaskan tentang acara dan bagaimana acara ini dapat terlaksana, yaitu berkat dukungan dari seluruh kawan – kawan athlete dan pak Deddy Setiadi mensponsori terhadap acara ini sehingga dapat terlaksana, begitu disampaikan dengan kata – kata sponsor terkenang pula bagaimana ketika itu bahwa PTM dan bahkan bila ingin mengikuti suatu kejuaraan kita harus pontang panting mencari sponsor agar dapat mempersiapkan para athlete dan mengadakan TC serta mengikuti kejuaraan, hal tersebut rupanya kondisi tersebut masih juga harus dialami sampai saat ini untuk Tenis Meja Jawa Barat dan masih diperlukan untuk mencari sponsor, baru dapat acara dilaksanakan.

Acara mau dimulai kembali memberikan suasana kenangan ketika melihat peserta duduk di lantai sambil mendengar sambutan diminta oleh Chandra yang pada hari itu sebagai penyelenggara dan merangkap MC, melihat situasi tersebut terbayang dalam benak bahwa kondisi tersebut dan situasi tersebut mengenangkan kita seakan – akan suasana itu mendadak muncul seperti ketika bila pembina dan atau pelatih akan memberikan briefing dilapangan, anak – anak duduk dilantai mendengar dengan saksama arahan yang akan diberikan oleh pembinaan, kenangan itu terbayang kembali dan memberikan suasana kenangan itu, dan tak tahu suasana tersebut akan dapat kembali or pass is never come.

Kang Rachmat

Kang Rachmat diberikan kesembapatan untuk memberikan sambutan dan beliau menceritakan bagaimana beliau dapat terlibat di Tenis Meja dan mengenang suasana ketika itu, beliau juga menyampaikan bahwa kini telah terbentuk Yayasan yang diharapkan dapat memberikan bantuan kepada athlete yang kurang mampu dan nasibnya kurang beruntung, diharapkan Yayasan ini dapat memberikan bantuan dan perhatian. memang Kang Rachmat yang satu ini banyak kreativenya dan memiliki perhatian yang cukup besar untuk masa depan para athlete khususnya bagi athlete Tenis Meja. menutup dalam speak beliau juga menganjurkan pertemuan semacam ini dapat berlanjut dan mungkin dapat digilir dirumah masing – masing.

Sambutan selanjutnya diminta oleh Sdri Chandra agar kami dapat memberikan sambutan, tentu membuat kami sempat kebingungan, apa yang harus disampaikan selain menyampaikan ucapan terima kasih terhadap undangan ini serta perhatian oleh para mantan athlete terhadap pembinanya dan mengundang kami – kami ini untuk hadir di dalam acara halal bi halal ini. moment tersebut di minta juga agar kami dapat menyampaikan highlight Tenis Meja ketika itu, ketika ditugaskan untuk melatih para athlete untuk mempersiapkan Kaded dan Junior, kemudian PON. di moment ini disampaikan bahwa kini dunia olah raga Tenis Meja telah banyak berubah termasuk para athlete nya terutama dari sisi perubahan dari segi management, social, dan technology, dan sudah barang tentu technical kepelatihan, disampaikan bahwa pada saat itu kami tidak berbuat banyak terkecuali hal – hal administrasi dan monitoring system terhadap athlete yang mendapatkan perhatian serta aspek efficiency yang dibagun termasuk group efficiency and interaction / communication yang harmonis antar athlete dan pembina dan orang tua, hasilnya mungkin dapat dirasakan sampai sekarang bahwa kekompakan dan hubungan antara satu dan yang lainnya masih terbangun dengan harmonis, itu salah satu keyword.

Mengakhiri acara ini diminta selaku athlete senior sdr Rodjak untuk memberikan sambutan karena Shinta Siregar yang merupakan athlete yang paling senior tapi Shinta meminta Rodjak untuk mewakilinya,  tentu Rojak tidak berani menolak atas permintaan dari Shinta kerena beliau begitu hormat terhadap seniornya, hal tersebut juga diungkapkan oleh sdr Rodjak, karena ketika masih junior, Rojak masih digandeng jalannya oleh Shinta demikian diungkapkannya. ungkapan tersebut menambah suasan haru dan betapa para junior menghormati seniornya dan betapa seniornya membimbing para junior dan apakah situasi itu masih terdapat kini. ??  Shinta satu – satunya pemain defend player, yang bersangkutan tidak saja sebagai seorang athlete Tenis Meja, ia juga seorang athlete Jabar dan nation softball, tapi Shinta lebih memilih dan mencintai Tenis Meja dalam dunia carrier olahraganya.

Rodjak menyampaikan bahwa athlete kini sangat berbeda dengan mereka dahulu, mereka sangan hormat terhadap pembinanya, siapa saja yang ditunjuk yang akan melatih mereka akan turut dan mengikutinya, tapi tidak sekarang para athlete pilih2 siapa pelatih dan officialnya, apakah pelatih mainnya lebih hebat darinya, kalau tidak belum tentu mereka mau turut instruksi. hal tersebut juga dicontohkan oleh Rojak, ketika ia sedang menjadi atelit dan pelatih fisik sdr Jimmi mereka tetap turut dan hormat mengikuti seluruh rangkaian program yang telah disusun, karena mereka yakin bahwa para pelatih juga tentu juga menguasai coaches management and technique, demikian ungkapannya yang ungkapan tersebut mungkin akan menjadi suatu catatan bagi athletes muda bagaimana harus mencapai suatu prestasi, yaitu diantaranya adalah consistent dan mempunyai perhatian dan disiplin yang tinggi terhadap seluruh program yang diberikan. lyKemudian diminta pak Jim untuk menutup acara ini dengan doa,  dan sekaligus mendoakan rekan – rekan yang terdiri para official dan atelit yang mendahului kita meningggalkan dunia fana ini seperti untuk alm Eliana, Dadang, Iskandarsyah, Cencen, Pak Ismail, Kunkun, Ido dan lain – lainnya. sebelum melakukan doa, Jim masih menyampaikan dan menyatakan para atelit pada waktu sangat disiplin mengikuti program latihan fisik sehingga mendapatkan hasil cukup maksikmal dan memuji Hendra sangat disiplin serta tidak pernah absen mengikuti latihan, Hendra ketika saat itu masih Junior tapi diikut sertakan dalam latihan bergabung para senior, yang sekaligus merupakan kadernisasi yang dipersiapkan untuk pengganti para senior termasuk Dadan.

Setelah doa penutup seluruh peserta dipersilahkan untuk santap siang dengan hidangan makanan Sunda, ada pepes, lalab, gepuk, sayur asam dan sudah barang tentu tidak ketinggalan dengan lalap dan sambelnya, termasuk baso dan baso tahu sebagai makanan favorit yang senaniasa dihidangkan disetiap acara pesta.

Kang Rodjak dan Otong

hReuni dan Halal bi Halal ex athlete Tenis Meja Jawa Barat ini sungguh memberikan suatu kenangan 35 tahun yang lalu nostalgia bagi semua tercermin dari wajah seluruh peserta, dan memang tidak semua dapat haddir seperti Kang Ajat SMK, Feitje Thoriq tidak dapat hadir dipertemuan ini.

Suasana athlete Tenis Meja Jabar untuk seperti ini dianggap akan sangat susah karena para athlete tidak terbangun dari dasar memiliki dan fanatisme sudah mulai memudar, karena athlete yang ada kini adalah athlete Import, hal ini juga membuat para club pretasi sedikit walau pun club cukup banyak, karena untuk membentuk seorang athlete untuk sampai berprestasi dibutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit, hal ini tentu perlu mendapat perhatian dari pengurus tenis meja, apakah untuk mendapatkan emas di kejuaraan di nasional lebih baik beli athlete atau menciptakan athlete. point pembinaan sempat juga dibicarakan dipertemuan ini dengan sdr. Otong dan bersama beberapa athlete lainnya.

Tercermin diwajah dan dialog antar mereka, wajah memang boleh berubah semangat dan kepedulian mereka terhadap dunia Tenis Meja Jawa Barat tak pernah padam dan memberikan peduli begitu besar. They Spirit for Table Tennis  never die

Share with:

FacebookTwitterGoogleTumblrStumbleUponLinkedInPinterestDigg


Categories

About the Author:

Teamwork makes the dream work, but a vision becomes a nightmare when the leader has a big dream and a bad team.

Leave a Reply